Hampir semua orang pernah lewat di depan got yang airnya keruh, berbau, dan kadang dipenuhi sampah. Reaksi umum: menyalahkan kebiasaan buruk orang yang buang sampah sembarangan. Tapi ada masalah yang lebih mendasar dan jarang dibahas — bagaimana sistem pembuangan air di rumah-rumah memang dirancang (atau tidak dirancang) sejak awal.

Idealnya: got hanya untuk air hujan

Sistem ideal: pemisahan air hujan dan air kotor

Dalam sistem sanitasi yang ideal — yang diterapkan di kebanyakan bangunan modern di negara maju — ada pemisahan yang jelas antara dua jenis aliran air buangan.

Air hujan dari atap mengalir melalui talang menuju sistem drainase kota, yang kita kenal sebagai got atau selokan. Air ini relatif bersih karena hanya berasal dari air hujan yang jatuh ke atap.

Air kotor — dari dapur, wastafel, floor drain kamar mandi, dan jamban — seharusnya diarahkan ke sistem pengolahan terpisah: septic tank atau IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah), bukan ke got. Air dari dapur bahkan idealnya melewati grease trap terlebih dulu untuk memisahkan minyak sebelum masuk sistem pengolahan.

Dengan sistem ini, got tetap bersih karena hanya menampung air hujan. Air kotor diolah secara terpisah sebelum akhirnya kembali ke lingkungan dalam kondisi yang lebih aman.

Kenyataan di Indonesia: hampir semua langsung ke got

Kenyataan: semua masuk got

Sayangnya, kondisi yang ideal ini jarang diterapkan di rumah-rumah Indonesia. Kenyataannya, air dari dapur, wastafel, dan floor drain kamar mandi hampir selalu mengalir langsung ke got — sama seperti air hujan. Satu-satunya yang biasanya diarahkan ke septic tank hanyalah pembuangan dari jamban, itupun banyak yang septic tank-nya sudah tidak berfungsi optimal atau bahkan rembes ke tanah sekitar.

Akibatnya, got yang seharusnya hanya berisi air hujan berubah menjadi saluran pembuangan air kotor dari seluruh rumah tangga di sekitarnya. Air sabun, minyak bekas masak, sisa deterjen — semuanya bercampur di sana.

Kenapa sistem yang lebih baik jarang diterapkan?

Kompleksitas sistem pembuangan yang benar

Bukan karena tidak ada yang tahu sistem yang benar. Alasan utamanya lebih praktis: sistem pembuangan air kotor yang benar jauh lebih kompleks daripada sekadar mengalirkan semuanya ke got.

Kalau semua saluran air kotor — dapur, wastafel, floor drain, jamban — harus diarahkan ke satu sistem pengolahan terpusat, ada banyak detail teknis yang harus diperhitungkan dengan presisi:

Bentuk dan posisi pipa inlet dari atap perlu direncanakan. Pipa vent (ventilasi udara dalam sistem pipa) perlu dipasang di posisi dan jarak yang tepat — kalau sembarangan, sistem bisa gagal berfungsi. Setiap titik pembuangan perlu punya jebakan air (water trap) yang benar — dan harus berbentuk P-trap, bukan S-trap, karena S-trap lebih rentan kehilangan air jebakannya sehingga bau bisa naik. Setiap titik potensial tersumbat perlu punya akses pembersihan (clean-out) yang mudah dijangkau.

Kalau ada satu saja detail yang salah, dampaknya bisa terasa di seluruh rumah — bau yang menyebar, sistem yang tersumbat, atau air yang tidak mengalir dengan benar. Ini jauh lebih rumit dibanding sekadar menyambungkan pipa ke got terdekat, yang menjelaskan kenapa banyak proyek — terutama yang dikerjakan tanpa gambar kerja detail — akhirnya memilih jalan pintas yang lebih sederhana meski tidak ideal.

Dampak lingkungan yang berantai

Dampak berantai pencemaran dari got ke laut

Air kotor yang masuk ke got tidak berhenti di situ saja. Got mengalir ke saluran yang lebih besar, saluran itu mengalir ke sungai, dan sungai pada akhirnya bermuara ke laut. Pencemaran yang dimulai dari satu rumah tangga — minyak bekas masak, sisa sabun, limbah organik — pada akhirnya menjadi bagian dari masalah pencemaran air skala yang jauh lebih besar.

Ini bukan masalah satu rumah atau satu kawasan saja. Ini adalah akumulasi dari jutaan rumah tangga yang sistem pembuangannya dirancang dengan pendekatan yang sama — semua masuk ke got karena itu jalur yang paling sederhana dan murah untuk dibangun.

Implikasi untuk mahasiswa arsitektur

Ini pelajaran penting yang jarang dibahas eksplisit dalam pendidikan arsitektur: keputusan desain sistem sanitasi bukan sekadar soal fungsi teknis di dalam satu bangunan, tapi punya konsekuensi terhadap kualitas lingkungan yang jauh lebih luas.

Ketika merancang sistem pembuangan sebuah bangunan, pertimbangan yang perlu ada bukan hanya "bagaimana air ini bisa mengalir keluar", tapi "ke mana air ini akan berakhir, dan apa dampaknya." Sistem yang memisahkan air hujan dari air kotor, serta memastikan air kotor diolah dengan benar sebelum kembali ke lingkungan, adalah standar yang seharusnya menjadi pertimbangan default — bukan fitur mewah yang hanya ada di proyek besar.

Ini juga menegaskan kenapa sistem sanitasi tidak boleh dirancang dengan pendekatan asal jalan. Detail seperti jenis trap, posisi vent, dan akses clean-out yang sudah dibahas sebelumnya bukan sekadar formalitas teknis — ini yang menentukan apakah sistem benar-benar berfungsi atau justru menciptakan masalah baru.

Kesimpulan

Got yang kotor di Indonesia bukan semata soal kebiasaan buruk individu, tapi cerminan dari sistem pembuangan air yang sejak awal dirancang (atau tidak dirancang) dengan pendekatan yang keliru. Idealnya, got hanya menampung air hujan, sementara air kotor dari dapur, wastafel, dan kamar mandi diarahkan ke sistem pengolahan terpisah. Kompleksitas teknis dalam merancang sistem yang benar adalah alasan utama kenapa jalan pintas — semua ke got — jadi pilihan yang lebih umum. Sebagai calon arsitek, memahami dan menerapkan standar sanitasi yang benar adalah tanggung jawab yang berdampak jauh melampaui satu bangunan.

Baca Juga

Mau Kerja di Bidang Arsitektur?

Cek lowongan terbaru untuk arsitek, interior designer, dan drafter di seluruh Indonesia — update setiap hari di lokerarsitek.com →