Pernah pasang topi di atas pintu atau jendela, tapi waktu hujan deras tetap saja air masuk ke dalam? Bukan berarti topinya salah bentuk โ€” bisa jadi ukurannya yang kurang tepat untuk mengantisipasi sudut tempias hujan di lokasi tersebut.

Kabar baiknya, ada rumusnya. Kabar kurang baiknya, ada satu angka dalam rumus itu yang hampir tidak mungkin didapat secara akurat.

Rumus dasarnya sebenarnya simpel

Diagram sudut tempias dan rumus

Tempias air hujan terjadi karena hujan tidak selalu jatuh lurus ke bawah โ€” angin mendorongnya ke arah tertentu sehingga air bergerak miring. Sudut kemiringan inilah yang menentukan seberapa jauh air bisa masuk ke dalam sebelum terhalang oleh atap atau topi jendela.

Rumus untuk mencari sudut tempias:

tan(sudut) = kecepatan angin รท kecepatan hujan

Contoh: kalau kecepatan angin 5 m/s dan kecepatan hujan 7 m/s, maka sudutnya adalah arctan(5/7) โ‰ˆ 35,5 derajat. Artinya hujan datang dari arah 35,5 derajat dari vertikal.

Setelah tahu sudutnya, panjang topi yang dibutuhkan bisa dihitung dengan trigonometri dasar. Sebagai gambaran kasar:

  • Sudut 15ยฐ โ†’ topi sekitar 27 cm per meter tinggi bukaan
  • Sudut 30ยฐ โ†’ topi sekitar 58 cm per meter tinggi bukaan
  • Sudut 45ยฐ โ†’ topi sekitar 100 cm per meter tinggi bukaan
  • Sudut 60ยฐ โ†’ topi sekitar 173 cm per meter tinggi bukaan

Semakin miring sudut tempias (angin kencang, hujan ringan), semakin panjang topi yang dibutuhkan.

Perbandingan panjang topi 4 sudut

Data kecepatan hujan โ€” masih bisa dicari

Dari dua variabel dalam rumus tadi, kecepatan hujan relatif lebih mudah diperoleh. Hujan bersifat universal โ€” air tetap air, gravitasi tetap sama di mana-mana. Yang mempengaruhi kecepatannya hanya ukuran tetesan.

Penelitian Gunn & Kinzer (1949) sudah mendokumentasikan ini secara cukup lengkap. Gerimis punya tetesan kecil dengan kecepatan sekitar 1โ€“3 m/s. Hujan sedang sekitar 5โ€“7 m/s. Hujan lebat bisa mencapai 8โ€“9 m/s. Angka-angka ini konsisten dan bisa dijadikan acuan.

Jadi untuk variabel kecepatan hujan, kita masih punya pegangan yang cukup solid.

Data kecepatan angin โ€” di sinilah masalahnya

Kompleksitas aliran angin di kawasan

Berbeda dengan hujan, angin jauh lebih kompleks dan tidak bisa digeneralisasi.

Data kecepatan angin memang tersedia secara online โ€” dari BMKG, Weather Spark, dan berbagai sumber meteorologi lainnya. Tapi data itu adalah data skala kawasan atau kota, bukan skala tapak bangunan. Kecepatan angin rata-rata di Jakarta tidak bisa langsung dipakai untuk menghitung tempias di rumah spesifik di gang sempit di Kebayoran.

Kenapa? Karena kecepatan angin di tingkat tapak dipengaruhi oleh sangat banyak faktor: posisi bangunan di dalam kavling, bentuk bangunan itu sendiri, ketinggian di sekitarnya, jarak ke jalan, ada tidaknya vegetasi, bahkan bentuk bangunan tetangga. Semua variabel ini berubah dari satu lokasi ke lokasi lain, bahkan dari satu sudut rumah ke sudut lainnya.

Mengukur manual dengan anemometer pun bukan solusi yang praktis โ€” selain butuh waktu dan alat, angka yang didapat hari ini belum tentu representatif untuk kondisi di masa depan. Angin tidak berperilaku konsisten seperti gravitasi.

Kesimpulan yang mungkin mengejutkan

Solusi fisik alternatif

Mengingat kerumitan mendapatkan data angin yang akurat, pendekatan yang lebih realistis justru adalah: anggap tempias selalu terjadi, dan desain solusi fisik untuk menghalanginya.

Daripada menghabiskan waktu menghitung sudut tempias dengan presisi tinggi tapi datanya tidak akurat, lebih produktif untuk berpikir dari sisi lain: kalau hujan pasti bisa masuk, benda apa yang akan menghalanginya?

Jawabannya bisa bermacam-macam tergantung kebutuhan dan konteks desain:

Untuk bukaan yang perlu tetap terbuka saat cuaca baik, blind atau tirai outdoor bisa diturunkan saat hujan. Untuk area yang butuh perlindungan permanen, kaca fixed atau panel penutup lebih tepat. Untuk teras atau area semi-outdoor, kombinasi overhang dalam dan sistem drainase yang baik bisa menjadi solusi yang lebih andal daripada satu topi panjang yang dihitung dari rumus.

Implikasi untuk proses desain

Ini bukan berarti rumus tadi tidak berguna. Sebagai gambaran awal โ€” untuk memperkirakan apakah topi yang direncanakan "masuk akal" secara proporsional โ€” rumus tersebut tetap relevan. Tapi menjadikannya satu-satunya dasar keputusan desain, tanpa mempertimbangkan ketidakpastian data angin, akan menghasilkan desain yang terlalu percaya diri pada angka yang sebenarnya tidak solid.

Pemahaman ini penting buat mahasiswa arsitektur: tidak semua aspek desain bisa diselesaikan dengan kalkulasi. Ada wilayah di mana pertimbangan pragmatis โ€” apa yang bisa bekerja di kondisi terburuk? โ€” lebih relevan dari presisi matematis.

Memilih solusi yang robust terhadap ketidakpastian seringkali lebih baik dari solusi yang optimal di kondisi ideal tapi rapuh ketika kondisi berubah.

Kesimpulan

Tempias hujan punya rumus โ€” dan rumusnya tidak rumit. Yang sulit adalah mendapatkan data kecepatan angin yang akurat di tingkat tapak, karena angin terlalu dipengaruhi konteks lokal untuk bisa digeneralisasi dari data online. Pendekatan yang lebih andal: asumsikan tempias selalu mungkin terjadi, lalu desain elemen fisik yang bisa menghalanginya โ€” entah itu topi, kaca, blind, atau kombinasi ketiganya.

Mau kerja di bidang arsitektur?

Cek lowongan terbaru untuk arsitek, interior designer, dan drafter di seluruh Indonesia โ€” update setiap hari di lokerarsitek.com โ†’